KOTA TEGAL – Hari Ulang Tahun ke-446 Kota Tegal diramaikan dengan pagelaran seni dan budaya berupa pertunjukan wayang golek yang digelar di Jalan Pancasila, komplek Alun-alun Kota Tegal, Jumat (17/4/2026) malam.

Pertunjukan wayang golek tersebut menampilkan dalang kondang Ki Haryo Enthus Susmono yang membawakan lakon “Mangsah Bubrah”.

Lakon ini mengisahkan tentang kekacauan besar dalam kehidupan manusia maupun kerajaan akibat nafsu, keserakahan, serta hilangnya kendali diri.

Selain sarat makna, gelaran ini juga dipenuhi nuansa hiburan. Sejumlah seniman turut memeriahkan suasana, di antaranya Cak Percil bersama timnya, Abah Kirun, Kadir, dan sinden Ciblek. Dengan gaya khas mereka, para seniman tersebut berhasil menghadirkan keceriaan dan mengundang tawa para penonton di sepanjang Jalan Pancasila.

Wali Kota Tegal, Dedy Yon Supriyono, dalam sambutannya menyampaikan bahwa peringatan Hari Jadi ke-446 Kota Tegal merupakan momentum refleksi atas perjalanan panjang kota tersebut.

“Hari Jadi ke-446 Kota Tegal adalah momentum refleksi atas perjalanan panjang kota kita. Sejak dahulu, Tegal dikenal sebagai kota pelabuhan yang tangguh dan berdaya juang tinggi. Semangat itu harus terus kita jaga dan kita wariskan,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya semangat gotong royong dalam membangun kota. Menurutnya, pagelaran seni budaya ini menjadi bukti nyata kebersamaan masyarakat dalam melestarikan budaya.

“Gotong royong adalah nilai luhur yang harus terus kita hidupkan. Melalui gotong royong, kita dapat memperkuat persatuan dan kebersamaan. Pagelaran seni ini adalah contoh nyata bagaimana masyarakat Tegal bersatu untuk merayakan kebudayaan,” tambahnya.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa budaya tidak hanya sebatas seni pertunjukan, tetapi juga mencakup nilai-nilai kehidupan seperti kejujuran, kerja keras, dan solidaritas yang harus terus ditanamkan dalam masyarakat.

Di akhir sambutannya, Wali Kota Tegal menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya acara, termasuk para seniman yang turut menghibur masyarakat.

Pagelaran wayang golek ini pun menjadi salah satu rangkaian perayaan yang tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga menyampaikan pesan moral serta memperkuat nilai budaya di tengah masyarakat, sejalan dengan tema “Tegal Tangguh Pantang Ngangluh.”(*)