TEGAL – Pementasan teater berjudul Mangir menjadi salah satu sajian budaya yang mencuri perhatian di akhir bulan ini.

Lakon yang sarat intrik politik, strategi kekuasaan hingga tragedi cinta ini akan dipentaskan di Teater Arena Taman Budaya Tegal, Sabtu 25 April 2026 oleh Teater RSPD, teater senior asal Kota Tegal pimpinan Yono Daryono.

Menariknya, Wakil Wali Kota Tegal, Tazkiyyatul Muthmainnah, turut ambil bagian sebagai pemain dengan memerankan tokoh Ratu Mas, istri Panembahan Senapati.

Yono Daryono selaku sutradara mengatakan, lakon Mangir dipilih karena memiliki relevansi kuat dengan kondisi saat ini.

“Ini bukan sekadar cerita sejarah. Intrik politik di dalamnya masih sangat aktual. Ada konflik kekuasaan, strategi, bahkan istilahnya jangan sampai ada dua matahari,” ujar Yono, dalam podcast Warung Poci di Kantor Perwakilan Suara Merdeka Tegal, Kamis (23/4) siang.

Menurut Yono, kisah Ki Ageng Mangir yang menolak tunduk pada hegemoni Mataram merupakan potret dinamika kekuasaan yang terus berulang dalam berbagai zaman. Meski kerap dikenal dalam bentuk ketoprak, pementasan kali ini dikemas dalam format teater modern dengan pendekatan artistik yang berbeda.

Yono menambahkan, proses penggarapan lakon tersebut memakan waktu panjang, mulai dari riset cerita, penyesuaian naskah hingga latihan intensif sejak awal 2026.

“Latihan dilakukan hampir setiap hari. Bahkan beberapa waktu terakhir juga dilakukan di rumah dinas wakil wali kota agar lebih fokus,” ujar Yono.

Keterlibatan Wakil Wali Kota, lanjut Yono, berawal dari pertemuan dalam kegiatan Dewan Kesenian Tegal (DKT). Saat itu, diketahui bahwa yang bersangkutan memiliki latar belakang di dunia seni.

“Awalnya hanya candaan, tapi ternyata serius. Kami kemudian menyesuaikan naskah dan memilihkan peran Ratu Mas,” ujar Yono.

Sementara itu, Tazkiyyatul Muthmainnah atau Mba Iin mengaku, keterlibatannya dalam pementasan ini merupakan bentuk dukungan terhadap perkembangan seni dan budaya di Kota Tegal.

Sejak kecil, Mba Iin mengaku aktif dalam berbagai kegiatan seni, mulai dari membaca puisi, drama hingga lomba mendongeng.

“Sudah lebih dari 20 tahun tidak tampil, tapi ini seperti nostalgia sekaligus bentuk dukungan kepada para seniman di Kota Tegal,” ujar Mba Iin.

Mba Iin menilai, pementasan Mangir tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga sarana refleksi, khususnya terkait dinamika kekuasaan dan konflik kepentingan.

“Kalau dilihat, kisah ini masih relevan. Dalam politik selalu ada strategi. Bahkan dalam cerita ini, pendekatan yang digunakan bukan perang terbuka, tetapi cara yang lebih halus untuk meminimalisir korban,” kata Mba Iin.

Dalam lakon tersebut, konflik bermula dari perlawanan Ki Ageng Mangir terhadap kekuasaan Panembahan Senapati. Upaya penaklukan dilakukan melalui strategi politik, termasuk menjadikan Rara Pembayun sebagai bagian dari taktik.

Kisah berujung pada dilema, ketika Ki Ageng Mangir berada pada posisi sebagai menantu sekaligus musuh. Konflik itu berakhir tragis di Watu Gilang.

Melalui pementasan ini, Pemerintah Kota Tegal berharap perayaan Hari Jadi tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga menghadirkan ruang refleksi melalui karya seni dan budaya.

“Sebagai kota yang dikenal dengan tradisi teater, momentum ini penting untuk menunjukkan bahwa seni di Tegal tetap hidup dan berkembang,” ujar Mba Iin.