Makassar – Puncak acara Hari Aksara Internasional 2019 dengan Tema “Ragam Budaya Lokal dan Literasi Masyarakat” Sabtu (7/9/2019) di gelar di lapangan Karebosi, Makassar, Sulawesi Selatan.
Disampaikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Muhajir Effendi bahwa literasi yang dimiliki warga Indonesia bisa menyelesaikan masalah sehari hari dan bisa menyelesaikan masalah bangsa, jadi literasi tidak hanya baca tulis dan hitung.
“2045 adalah masa emas kita, mari kita siapkan generasi emas kita untuk tantangan revolusi industri 4.0 dengan literasi” ucap Muhajir.
Muhajir juga menjelaskan bahwa Penetapan Hari Aksara Internasional merupakan buah dari keprihatinan UNESCO terhadap kondisi keberaksaraan masyarakat dunia. Ditetapkan pada tahun 1966, hari besar ini bertujuan untuk menggerakkan masyarakat dunia akan pentingnya keberaksaraan.
Atas tujuannya itu, UNESCO kemudian selalu membuat beragam kegiatan di berbagai belahan dunia untuk meningkatkan minat baca masyarakat dunia. Menyongsong era digital saat ini, UNESCO juga menggiatkan literasi digital.
Tujuan utama UNESCO juga menggiatkan literasi digital lantaran banyaknya informasi yang tidak benar tersebar melalui internet. Salah satu tandanya ialah banyaknya hoaks yang menyebar di media sosial. Oleh sebab itu, UNESCO menyasar dunia digital agar masyarakat dunia tidak terjebak oleh berbagai informasi yang salah alias hoaks, jelas Muhajir
Sementara itu disampaikan oleh Dirjen Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Ir. Haris Iskandar, PhD bahwa
Lebih dari 98 persen lebih bangsa Indonesia sudah bebas buta aksara, kini saatnya kita memberantas sisanya . Dengan harapan bisa zero buta aksara. “Tidak mudah untuk menuju zero buta aksara karena terletak di daerah terpencil, namun dengan semangat literasi kita yakin bisa terwujud Indonesia bebas buta aksara” ucap Haris.
Kondisi di Kota Tegal sendiri sebagaimana dikatakan oleh Wakil Walikota Tegal, Muhammad Jumadi cukup menggembirakan karena bebas buta aksara yang sudah mencapai angka 99,70 persen. Artinya masih ada 0,30 persen atau sekitar 600 an warga yang belum tuntas buta aksara.
” Keberhasilan buta aksara di Kota Tegal sudah mencapai 99,70 persen artinya lebih tinggi dari rerata Nasional yang berada di angka 98 persen lebih. Dan
masih 0,30 persen, sekitar 600 an warga yang masih harus dituntaskan,” ucap Jumadi
Lebih lanjut, Jumadi menjelaskan Dari jumlah 600 an orang yang masih buta aksara , kendalanya hampir rata-rata diatas usia produktif atau sekitar usia 70 tahunan dan juga warga Kota Tegal yang bekerja di Luar Kota sebagai ART dan ada beberapa yang masih buta aksara.
