TEGAL – Pembelajaran perkuliahan di Universitas Pancasakti Tegal khususnya Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia (PBIna) nampak berbeda seperti biasa. Perbedaan itu nampak hadirnya dua seniman nyentrik asal Tegal yakni Apas Khafasi dan Lanang Setiawan di ruang Yayasan Pancasakti Tegal. Hadir dalam kegiatan tersebut Kepala Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia Leli Triana, Dosen Sastra PBIna Tri Mulyono, Lukman Alfaris dan mahasiswa semester 2. Kamis (22/3)
Kepala Progdi Pendidikan Bahasa Indonesia Leli Triyana menyampaikan bahwa diskusi sastra tersebut dilakukan untuk memperdalam ilmu sastra dengan praktek langsung bersama seniman yang fokus dibidangnya. “Ini dilakukan semata-mata untuk memberikan ilmu sastra kepada mahasiswa semester dua dimatakuliah puisi dan mata kuliah sastra Tegal.” ujar Laeli
Sedangkan Lukma Alfaris selaku dosen mata kuliah sastra menyampaikan terkait pembelajaran sastra yang dilakukan akan berjalan rutin setiap hari kamis. “Mahasiswa butuh refrensi dan butuh praktek langsung, selain dibangku perkuliahan secara teori, praktek bersama seniman sastra pun harus diketahui oleh mahasiswa yang nantinya setelah lulus berkecimpung di dunia pendidikan.” ujar Lukman Alfaris.
Apas Khafasi yang biasa disebut manusia nol nyentrik dengan mementaskan monolog dengan judul “Politik Kue” yang langsung diapresiasi oleh dosen dan mahasiswa.
Sedangkan Lanang Setiawan atau si Begawan Tegalan itu membahas tentang Bahasa Tegal. “Bahasa Tegal tidak kasar, namun santun. Contoh pada saat orang Tegal mwngkritik itu menggunakan wangsalan Tegalan.” tutur Lanang.
Sesi tanya jawab pun terjadi sebagai umpan balik diskusi sastra yang sekaligus matakuliah tersebut.
