KOTA TEGAL – Kota Tegal memiliki jejak panjang dalam perjalanan sastra Indonesia. Dari masa ke masa, Kota Bahari ini telah melahirkan banyak sastrawan, penyair, cerpenis, penulis naskah, hingga pegiat literasi yang memberikan warna dan kontribusi bagi perkembangan sastra nasional.
Hal tersebut disampaikan Wakil Wali Kota Tegal, Tazkiyyatul Muthmainnah, saat menghadiri acara refleksi Suriali Abdi Kustomo bertajuk “40 Tahun Bersastra, Andi Dapat Apa?” di Balai Budaya Dewan Kesenian Tegal (DKT), Jalan Jalak Timur, Kota Tegal, Minggu (26/7) pagi.
Menurut Tazkiyyatul, berbagai karya sastra lahir dari rahim kebudayaan Kota Tegal. Kehidupan masyarakat, dialek yang khas, nilai-nilai lokal, budaya pesisir, semangat egaliter, hingga dinamika sosial telah menjadi sumber inspirasi yang kaya bagi para penulis.
“Semua itu menunjukkan bahwa Kota Tegal memiliki ekosistem budaya yang subur dan mampu melahirkan karya-karya yang tidak hanya bernilai artistik, tetapi juga merekam identitas serta perjalanan masyarakatnya,” ujar Tazkiyyatul.
Ia menegaskan, Pemerintah Kota Tegal memandang sastra sebagai salah satu pilar kebudayaan yang harus terus dijaga, dikembangkan, dan diwariskan kepada generasi muda. Karena itu, pemerintah berkomitmen mendukung tumbuhnya ruang-ruang kreatif yang mampu mempertemukan para penulis, penyair, komunitas literasi, seniman, dan masyarakat.
“Kami berharap semakin banyak ruang kreatif yang membuka kesempatan bagi para penulis, penyair, komunitas literasi, dan generasi muda untuk terus berkarya. Pemerintah Kota Tegal akan terus mendukung berbagai kegiatan literasi dan kebudayaan sebagai bagian dari upaya membangun masyarakat yang cerdas, berkarakter, dan berbudaya,” tambahnya.
Pada kesempatan tersebut, Tazkiyyatul juga mengapresiasi perjalanan berkesenian Suriali Abdi Kustomo yang telah mengabdikan diri selama empat dekade di dunia sastra.
Menurutnya, refleksi bertajuk “40 Tahun Bersastra, Andi Dapat Apa?” bukan sekadar mengenang perjalanan panjang seorang sastrawan, tetapi juga menjadi momentum untuk merefleksikan kembali arti penting sastra dalam kehidupan masyarakat.
“Sesungguhnya, yang diperoleh seorang sastrawan bukan semata-mata penghargaan. Lebih dari itu, ia memperoleh kepercayaan masyarakat, mewariskan pemikiran, serta meninggalkan jejak peradaban yang akan terus hidup melintasi zaman,” pungkas Tazkiyyatul.
Acara refleksi tersebut dihadiri para sastrawan, budayawan, pegiat literasi, komunitas seni, akademisi, serta masyarakat yang bersama-sama memberikan penghormatan atas dedikasi Suriali Abdi Kustomo dalam memperkaya khazanah sastra Indonesia, khususnya dari Kota Tegal.(*)
