Wakil Walikota Tegal Muhammad Jumadi, ST.,MM mengatakan perlu sinergitas bersama dalam menangani sampah di Kota Tegal. Jumadi mengatakan perlu rencana yang matang agar Kota Tegal bebas sampah.
Hal tersebut disampaikan Wakil Walikota Tegal Muhammad Jumadi, ST.,MM saat menerina audiensi dari Asosiasi Industri Olefin, Plastik dan Aromatik Indonesia (Inaplas), Perwakilan Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Asosiasi Daur Ulang Plastik Indonesia (Adupi). Turut hadir Dinas Lingkungan Hidup Kota Tegal, Selasa (13/8) di ruang kerja Wakil Walikota.

Jumadi menambahkan, untuk mensukseskan itu semua (bebas sampah) perlu mengedukasi masyarakat agar memisahkan sampah organin dan non organik. Selain itu, perlu menyiapkan tempat sampah di setiap rumah. Masyarakat harus tahu Gerakan Tegal Bersih. “Kita perlu mengedukasi mereka (Masyarakat) agar memilah sampah antara organik dan non organik,” ujar Jumadi.
Kepala DLH Kota Tegal Resti Ir. Resti Drijo Prihanto mengatakan volume sampah semakin bertambah. Selain itu, Kota Tegal belum memiliki tempat pembuangan akhir (TPA) Permanen. Saat ini masih berupa TPA Sementara. Akan tetapi lahan seluas 15 hektar telah disiapkan untuk dijadikan TPA Permanen di wilayah Tegal Barat.
Resti merinci jumlah timbunan sampah di TPA Sementara mencapai 214 ton/hari. Timbunan sampah di TPST/TPS 3R mencapai 563.618 m3/hari. Volume sampah yang dikella menjadi kompos di TPST/TPS 3R mencapai 18,2 m3/hari dan sampah yang dikelola Bank Sampah mencapa 4,78 m3/hari.
Kepala Laboratorium Teknologi Polimer dan Membran ITB H A Zainal Abidin memperkenalkan pengolahan sampah dengan Manajemen Sampah Zero (Masaro). Masaro merupakan konsep pengelolaan dan pengolahan sampah yang bisa menjadi solusi dalam menanggulangi sampah.
Zainal menyampikan, dengan Masaro nantinya pengolahan sampah tidak perlu lagi TPS/TPA. Skema industri pengolahan sampah Masaro sendiri diawali dengan pemilahan sampah oleh masyarakat menjadi beberapa jenis, yakni pertama sampah yang membusuk.
Kedua adalah sampah plastik film. Ketiga, sampah daur ulang (plastik kemasan, keras, logam dan kaca) dan terakhir untuk sampah bakar. Masaro mampu untuk mengolah seluruh sampah dan menjadikannya produk yang memiliki manfaat dan nilai ekonomis yang tinggi.

“Sampah plastik bisa digunakan untuk pengaspalan, BBM, dan sampah membusuk dapat digunakan untuk pertanian. Satu kilo sampah membusuk bisa jadi pupuk organik 10 liter untuk 1 hektar sawah, bisa juga untuk pakan ternak (konsentrat),” pungkas Zainal.
Pada kesempatan tersebut, Wakil Walikota Tegal bersama rombongan mengunjungi Bank Sampah Mawar Biru, Jalan Rambutan Kelurahan Kraton. Bank Sampah Mawar Biru memproduksi berbagai macam kerajinan daur ulang sampah seperti sepatu, beragam model tas, rompi dan sebagainya. Semua produk itu menggunakan daur ulang sampah plastik.
