TEGAL – Kita tidak bisa memungkiri rasa percaya dirinya warga kota Tegal dengan bahasa ibunya kurang kuat. Di Jakarta orang Tegal lebih bangga dengan bahasa Betawinya walaupun kadang kala terdengar wagu. Setelah beberapa kawan seniman membuat karya sastra dalam bahasa Tegal, dan dikelilingkan ke beberapa kota seperti Jakarta dan Solo ada perubahan yang cukup mencolok. Lanang Setiawan sebagai salah satu pelopor sastra Tegalan dalam bahasa tulis tidak henti-hentinya menulis sastra Tegalan baik dalam puisi, novel maupun artikel. Selain itu juga kita mengenal Dwiery Santoso, Ipung (wangsalan), Atmo Tan Sidik, Dr. Maufur (untuk menyebut beberapa nama). Lanang Setiawan yang menerjemahkan puisi Renda Nyanyian Angsa menjadi Tambangan Banyak (1994) cukup menggugah semangat orang-orang Tegal membuat karya sastra dalam bahasa Tegal.

Tahun 2006 Yono Daryono dan kawan-kawan menyelenggarakan Kongres Bahasa Tegal 1, dimana orang – orang Jawa Wetan (penghamba bahasa Jawa standar) menilai orang-orang Tegal ada-ada saja. Ini adalah sebuah bentuk “perlawanan” terhadap bahasa Jawa. Bukankah yang dimaksud bahasa Tegal itu dialek Tegal masuk varian dalam bahasa Jawa. Kongres Bahasa Tegal salah satu tujuannnya agar bahasa Tegal masuk dalam kurikulum di sekolah. (18/8)

Yono Daryono berharap bahasa Tegal bisa masuk ke dalam kurikulum. ‘’Namun masih perlu adanya standarisasi dalam menerapkan bahasa Tegalan. Sebelum bahasa Tegal sebagai materi pelajaran sekolah, perlu adanya pembakuan teknik linguistik. Dari sana baru diteruskan dengan mewujudkan bahasa Tegal sebagai bahasa tulis. Tanpa standarisasi rasanya sulit dilaksanakan pengajaran bahasa Tegal di sekolah-sekolah.’’ Tegasnya.